Showing posts with label ReCharge diri. Show all posts
Showing posts with label ReCharge diri. Show all posts

Dibawah Sayap-Sayap Malaikat


             Ketika kita bersama, aku yakin sekali sayap-sayap malaikat sedang menaungi kita. Bahkan aku yakin sekali ikan-ikan pun dapat mendengar nama-nama kita yang disebut dalam lantunan doa malaikat-malaikat yang bergerumbul. Sahabat tau kenapa? Karena kita sedang berada di majelis yang mulia, tempat dimana kita menggaungkan keagungan Tuhan.

            Sahabat, biarkanlah rasa ini yang bercerita antara aku, kamu dan malaikat-malaikat kecil kita. Aku mengerti sekali, bahwa sahabat kau tidak mungkin hadir dalam majelis mulia ini tanpa ada Ghiroh yang begitu kuat. Siapa juga yang mau ditengah-tengah tenaga yang terkuras untuk tugas kuliah, diantara sisa kelelahan amanah dan diantara jalan mimpi yang  begitu panjang, masih mau menyempatkan menyimak bacaan yang tersendat-sendat, mengajarkan hal yang kecil tentang alif, ba, ta dan tsa? Siapa juga yang mau melakukannya? Pertanyaan itulah yang membuat diri yakin sekali, bahwasannya kemauan kalian untuk datang kemari adalah suatu pertanda jika kalian memiliki Ghiroh yang sangat  kuat yang tidak setiap muslim/ah dikaruniai oleh Allah Ta’ala.

            Sahabat, sebelum rupa-rupa rasa ini bercerita, izinkan diri bertanya pada kalian.

Sahabat, pernahkah kalian lupa bacaan  surat Al-Fatihah, Al- Ikhlas, Annas ataupun Al-Falaq?
atau pernahkah kalian lupa tentang rukun Islam dan iman?
Tentu kalian tidak pernah lupa hal itu bukan?
Sahabat, pernahkah kau seperti diriku yang bertanya, mengapa cerita-cerita tentang nabi Ibrahim, Yusuf dan Musa begitu lekat dalam ingatan?

            Tahukah engkau sob? ternyata itulah sebuah alasan  mengapa kita harus bertahan mengajarkan kebaikan-kebaikan pada malaikat-malaikat kecil kita. Karena sesuatu yang diajarkan dari kecil  akan selalu terkenang selama hayat masih dikandung badan. Ketika mereka telah beranjak dewasa akan terbawa lekat.  Sahabat coba bayangkan, jika suatu kelak malaikat-malaikat  kecil kita telah menjadi ibu dan ayah lalu menularkan nilai-nilai kebaikan-kebaikan yang kita ajarkan kepada keturunannya kelak, hmmm, sungguh indah sekali bukan? Dan bukankah itu merupakan suatu jariyah yang begitu besar dan pahalanya akan terus mengalir sampai kiamat kelak?

            Itulah alasannya Kawan, mengapa kita harus bertahan walaupun yang kita sediakan hanya sisa-sisa tenaga, kepayahan dan kesabaran. Karena terlalu sayang menyia-nyiakan semangat mereka, begitu juga untuk menyia-nyiakan jiwa jernihnya yang mudah diisi dengan kalam-kalam ilahi. Siapa tahu malaikat-malaikat kecil yang terkadangan tengil itu kelak tumbuh dengan Kebijaksanaan Tuhan yang kita ajarkan. Dan siapa tahu dengan apa yang kita ajarkan, kelak dapat menjadikan posisi kita begitu berharga di sisi Tuhan.Sahabat, itulah sebuah alasan. Alasan mengapa kita harus bertahan, walau hanya dengan sisa-sisa tenaga, sisa-sisa kepayahan dan kesabaran.
           
            Disini, dibawah sayap-sayap malaikat, dibawah atap masjid Al-ittihad, ketika malaikat-malaikat bergerumbul mendoakan nama kita, diantara sayup-sayup doa malaikat untuk kita, izinkan kututup kisah ini dengan sebuah kalimat pengingat yang begitu hangat menggetarkan jiwa, mendekapkan ukhuwah diantara kita.  

“Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah untuk membaca dan mampelajari Al Qur’an kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat serta diliputi oleh malaikat serta Allah sebut di hadapan (malaikat) di sisi-Nya” (HR. Muslim)


By : Arkandini Leo
                                                                                                           

Berdo’a-lah, Allah Mendengarmu



            وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ  
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina".” (Qs. Al-Mukmin: 60)
[1326] Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku.

            Setiap kali manusia menjalani hidup, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi selalu ada pekerjaan (baca:ikhtiar) yang dilakukan. Apalagi bila sahabat adalah seorang aktivis mahasiswa. Bahkan ada yang mencari-cari kegiatan apabila tidak ada agenda di suatu waktu. Setiap kita punya tujuan masing-masing dan perlu ikhtiar untuk meraihnya, right?
            Seperti yang kita ketahui, Rasul mengajarkan kita untuk berusaha dan berdo’a. itu adalah satu paket yang sering ktia sebut sebagai tawakal. Terwujud melalui doa yang acap kali kita baca tatkala keluar rumah demi mencari Ridho Illahi.
            “bismilaahi tawakaltu ‘alallahi wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi”
Artinya : Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja.
            Kita membacanya dengan harapan bahwa setiap langkah kita akan dituntun oleh Allah Ta’ala.


Berdo’alah, wujud dekatmu kepada Allah Subhanahu wata’ala
            Seorang muslim, apabila dia tidak pernah atau jarang sekali berdo’a, maka hampir dapat dipastikan hatinya jauh dari Allah. Apabila sahabat sudah merasa dekat dengan Allah, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri, merasa selalu diawasi oleh Allah (muraqabatullah) maka sahabat sudah mempunyai tiket terwujudnya do’a. berdo’a kepada Allah,-kalo boleh ane ibaratkan- seperti mengajukan proposal. Apabila ingin ditembusi ya.. harus dikemas dengan bagus, orangnya meyakinkan, bisa jadi punya cukup kedekatan emosional dengan Allah..
            Sahabat apabila sudah dekat dengan Allah, jauh melebihi kedekatan dengan siapapun dan apapun, maka otomatis ketika ada masalah kita pertama kali akan mengadu kepada Allah, memohon kasih sayang dari-Nya. Namun, apabila kita masih curhat masalah pribadi kita kepada orang lain sebelum kepada Allah, berarti dalam hati secara sadar maupun tidak, dia telah menomor dua-kan kedekatannya dengan Allah. Itulah parameter kita…….. marilah sahabat, kita intropeksi diri.


Berdo’alah, sahabat tidak akan menyesal
            Allah Ta’ala sayang kepada kita. Dan akan lebih disayang jika kita senantiasa bergantung kepada-Nya. Segala do’a yang kita panjatkan kepada Allah Ta’ala sebalu berakhir baik pada akhirnya, percaya? Dalam sebuah hadits, Rasul menyampaikan:

“Tidaklah seorang muslim berdo’a kepada Allah dengan sebuah do’a yang didalamnya tidak berisi dosa dan pemutusan tali silaturahim, melainkan Allah akan memberikan salah satu dari tiga kemungkinan : Allah akan segera mengabulkan do’anya, atau Allah akan menyimpannya sebagai pahala baginya di Akhirat, atau Allah akan menghindarkan dirinya dari keburukan yang semisalnya para sahabat berkata, “kalau begitu kami harus memperbanyak berdo’a(wahai Rasulullah)?”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “apa yang Allah berikan kepada kalian lebih banyak daru tang kalian minta”” (Hadits Shohih. Diriwayatkan oleh Ahmad, 3/18 dan Al-Bukohi dalam Al-Adab Al-Mufrad, no.710)

            Mengenai tempat yang mustajab, waktu yang mustajab, adab orang berdo’a, saya berbaik sangka pastilah sahabat sekalian sudah paham. Lalu apalagi yang menghalangi kita untuk berdo’a? toh gak ada ruginya…. Mintalah apa yang ingin sahabat minta. Tentunya permintaan yang baik-baik. Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik(hadits Arba’in no. 10).


Berdo’alah, karena do’a itu senjata kita
            Berdo’a sendiri sudah dicontohkan kepada kita oleh manusia pertama yang diciptakan Allah Subhanahu wata’ala, generasi pertama Ras manusia, yaitu nabi Adam as. Ketika diturunkan kebumi karena sebuah kelalaian, hingga berdo’a kepada Allah Ta’ala agar mengampuni dosanya.
Rabbana dholamnaa anfusana waillam tagfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khosirin
("Wahai tuhan kami, kami telah bersalah(menganiyaya diri kami sendiri). Dan sekiranya engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya dan pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi")

Doa adalah senjata yang menyelamatkan Nuh a.s. dengan diturunkannya air bah kepada kaummnya.
“Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan". (QS. Nuh:26-28)

Doa juga senjata yang menyelamatkan Musa a.s. ketika melawan tiran ketika itu, Firaun.
Musa berkata, ‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

Doa yang membuat Nabi Daud as. Semakin dicinta Allah.
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallammengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi 3412)

Do’a pula yang memperkenankan Allah untuk memberikan kemenangan kepada Rasulullah SAW. dalam benyak pertempuran yang beliau lakukan. Bahkan dengan kekuatan dan kedahsyatan doa, negara super power waktu itu, Persia dan Romawi berhasil ditaklukkan oleh kaum Muslimin. Barakallah..



By : Keigo_ArRifaiy



    
         

Apakah Sahabat Sedang Galau?

           Terinspirasi dari sekian banyak teman di situs jeraring sosial (sebut saja Faceb**k), tergerak hati ingin menuliskan sesuatu. Berawal dari sejak tadi sore, setiap kali cek beranda, adaa… aja status yang berbau  “Galau”. Nampaknya kosakata ini sudah menjamur dikalangan pelajar entah apapun penyebab galaunya. Sejurus kemudian taujih rohani dari ust. Arifin Ilham membuatku tersadar bahwa diri ini sedang galau pula. Memotivasi diri untuk berbagi pada sahabat sekalian.
            Sahabat, memang banyak tekanan dunia yang kita lalui setiap hari hingga kadang membuat diri serasa bingung, penat, lemas, mengantuk, malas… iya gak sob? Mulai dari IPK yang turun, kegiatan organisasi yang kian berat, uang kiriman (anak kost) yang tak kunjung datang, tugas kuliah menerpa tiap pekan, sampai pada skripsi yang dikejar waktu (duh.. jadi teringat temen-temen sekelas).  
            Silahkan sahabat instropeksi sendiri, disaat galau itu melanda, sadar atau tidak kita sudah selangkah lebih jauh dari Allah SWT. Dzikir mulai surut bahkan terhenti. Syaitan pun mendekat. Hingga otak pun tiada lagi memikirkan akhirat, lebih mengkhawatirkan dunia yang terlalu menyita pikiran dan tenaga. Kalau diruntut tentang perjalanan anak adam yang sebenarnya, persoalan dunia ini sungguh jauh kecil dibanding masalah masing-masing kita di akhirat. Masalah itu adalah sunnatullah… pasti ada disetiap kehidupan.
            Sahabat…. Janganlah terlalu lama tenggelam dalam ketidakpastian, tegakkanlah badan! Lebarkanlah mata! Buka pikiran! dan lihatlah sekitarmu…

Walaupun IPK turun…
Engkau masih dapat belajar sesuka hati, karena sebenarnya ilmulah yang kita butuhkan,
Walalu Anamah terasa sangat berat…
Engkau masih dapat berjalan dan masih kuat, karena selalu ada teman yang menopang,
Walau uang kiriman tak kunjung datang…
Engkau masih dapat hidup dan makan, karena Allah-lah yang memberimu makan,
Walau tuntutan kuliah semakin keras…
Engkau masih dapat tersenyum, karena  yakin sesungguhnya diri dapat menyelesaikannya,

Bulatkan tekadmu, menempuh nasib kemanapun menuju,
Serahkanlah hidup dan matimu, serahkan pada Allah semata….

            Mari bangkit dari kegalauan diri, keluarlah dari kegelapan dan menuju cahaya. Ingatlah Tuhanmu, ingatlah Allah Ta’ala, ucapkan “Bismillahirrah maa nirrakhiim”. Surat cinta Allah, “Alaa bidzikrillahi tathma innul Quluub” [QS.13:28]. Karena hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.
Adakah yang bertanya, “tapi bagaimana dengan masalahku?” jawabnya adalah: Pahami……….. Hadapi………. Nikmati :).
Kemudian ada lagi yang bertanya, “gimana saya harus mulai? masalahku terlalu besar”. Jangan katakan,” yaa Allah, masalahku sangat besar”. Tetapi katakanlah, “wahai masalah, Allah Maha Besar”. Bagaimana memulai? Melangkahlah! Maka langkah berikutnya akan lebih mudah.
            #Say  to Galau, “Loe Gue End”. Don’t we? ^^

By : Keigo_ArRifaiy 

Resep Agar Menjadi Orang yang Beruntung

                Keberuntungan merupakan hal yang kadang dijadikan sandaran bagi orang yang sudah pasrah akan keadaanya, tentu setelah berusaha sebelumnya. Bahkan dalam situasi tertentu hal tersebut sangat dinanti kemunculanya. Orang jawa menyebutnya “Bejo”,  “wong pinter, kalah karo wong bejo”. Menjadi orang yang beruntung atau orang yang bejo, itu tidak dapat kita andalkan. Akan tetapi keberuntungan bisa menjadi hampir pasti, tatkala kita taqwa kepada Allah SWT. Melaksanakan perintahNYA dan menjauhi larangNYA. Hal tersebut merupakan bagian dari kemurahan Allah Subhanahu wa ta’ala, atas hambanya yang senantiasa beribadah dengan ikhlas, dimanapun dan kapanpun. Percaya? Sahabat,  mari kita lihat surat cinta Allah berikut.
 “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran [3]:200)
                Dari ayat diatas maka jelaslah, resep bagi orang yang ingin beruntung, bukan hanya didunia namun juga diakhirat, yaitu taat kepada Allah SWT. Keberuntungan merupakan salah satu tanda bahwa Allah ridha kepada kita, ridha akan apa yang kita perbuat. Hingga kadang kita secara tidak disangka-sangka sebelumnya, beberapa keperluan kita didunia dimudahkan oleh Allah SWT. Kalo boleh saya berkata, itu adalah hasil akumulasi dari ketaatan kita kepada Allah SWT. Mulai dari ujian yang disangka susah kemudian Allah membukakan pikiran kita, sampai kepada -bagi anak kost- jatah perbulan yang menipis namun kita masih dapat hidup dan makan. Subhanallah, sadarilah sahabat, itu adalah kemudahan-kemudahan dari Rabb kita. Kita sepatutnya bersyukur akan hal itu, yaitu dengan melakukan ketaatan-ketaatan yang semakin ikhlas. Semakin banyak kita bersyukur, maka peluang kita mendapatkan keberuntungan juga semakin terbuka lebar. Itulah resepnya.
                Sahabat, mari resapilah setiap nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Pemberi Rizqi, niscaya disetiap ibadah kita akan menjadi khusuk dan serasa nikmat tak terkira. Nikmat karena kita sudah mengambil bagian kita diakhirat nanti. Nikmat karena mampu bersyukur atas apa yang diberi. Nikmat karena kita beruntung masih mendapatkan cahaya islam sampai detik ini. Hingga akhirnya, kita beruntung akan kesempatan bertemu Dzat yang menciptakan kita dari sesuatu yang hina, dari setetes air mani kemudian menjadi sesuatu yang dapat mempertanggungjawabkan diri. Barakallah.
                

CAMPUR TANGAN JIN di ALAM MANUSIA



Segala puji bagi Allah, Rabb sekaliyan alam. Yang menciptakan langit, bumi dan segala sesuatu diantara keduanya termasuk manusia dan jin. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya dan memohon Ampunan-Nya. Pembicaraan mengenai jin akan campur tangannya dalam kehidupan manusia merupakan bahasan yang tidak akan lapuk oleh perubahan jaman, tidak akan sirna oleh kemajuan teknologi. Karena ia dapat dirasakan pengaruhnya di belahan bumi manapun dan kapanpun selama manusia hidup di dunia.
Seperti yang telah kita ketahui, Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka member Aku makan.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56-57)
Setidaknya ada dua pemahaman yang salah tentang bagaimana cara menyikapi eksistensi jin ini. Pertama, tidak mengakui adanya jin dan menganggap bahwa jin hanya ada dalam dongeng atau takhayul, atau menolak tentang adanya campur tangan jin dalam kehidupan manusia. Padahal telah gamblang Allah SWT terangkan, baik dalil naqli maupun aqli tentang hal tersebut.   Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS. Al-Baqarah[2]: 275)
Imam Al-Qurtubi Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ayat tersebut merupakan bantahan bagi yang mengingkari adanya kesurupan jin dan mengatakan bahwa hal itu semata-mata pengaruh medis belaka, atau setan tidak dapat masuk pada diri manusia dan tidak dapat mengganggunya menjadi gila.” Oleh karena itu terkuaklah bahwa jin dapat mencampuri urusan manusia. Kedua,orang-orang yang percaya akan adanya jin namun sesat dalam memperlakukannya. Adanya praktek perdukunan, sihir, tenung, menyembahnya dengan melakukan ritual-ritual tertentu. Kedua sikap tersebut sangatlah berpotensi menjerumusakan umat dalam kesyirikan, dosa nomor wahid dalam islam.
IDENTITAS JIN DAN SETAN
“Al-Jaan”adalah nenek moyang dari seluruh jin, sebagaimana yang Allah firmankan :
“Dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr[15]:27)
Namun apakah penciptaan jin seperti halnya penciptaan Adam dan keturunannya? Yakni beranak pinak seperti manusia? Wallahu a’lam. Ya.. makhluk itu bernama jin, tapi mengapa? Dinamakan jin karena sifatnya yang ijtinan yakni tersembunyi dan tak kasat mata. Kata tersebut diambil dari “janna lail idza azhlama” malam telah menjadikan sesuatu tertutup karena gelapnya. Seperti halnya calon bayi dikatakan “janin” karena bersifat tersembunyi dirahim ibu. Begitu pula nikmatnya surga yg disebut “jannah” karenya tersembunyi pula tempatnya.
Lalu apakan perbedaan jin dan setan(syaitan)? Jelas tentu keduanya sangat berbeda. Jin adalah salah satu makhluk Allah seperti halnya manusia  -sesuai pembahasan sebelumnya dalam QS. Adz-Dzariyat[51]: 56-57-, sedangkan setan merupakan sifat. Sifat yang buruk, congak, hasud, terputus dari kebaikan, dan segala perilaku yang menuntun manusia untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Maka barangsiapa, baik manusia maupun jin apabila terindikasi akan hal tersebut maka dapat dikatakan dia syaitan. Jadi syaitan dapat berasal dari jin maupun dari manusia yang telah resmi menjadi musuh para nabi beserta umatnya. Allah Ta’ala berfirman :
”Dan demikianlah Kami jadiakn bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am[6]: 112)
 BAGAIMANA JIN DAPAT MENGGANGGU MANUSIA?
Sesungguhnya, gangguan jin terhadap manusia itu benar-benar terjadi. Hal ini telah disaksikan oleh pendengaran manusia, dan panca indra yag lain pun tidak menafikkannya, bahkan justru mengukuhkannya. Kalaulah bukan karena malaikat yang diutus Allah untuk menjaga manusia, maka tentulah tak ada manusia yang dapat lolos dari gangguan jin (syaitan). Yang demikin itu karena manusia tidak dapat melihat jin, sedangkan jin dapat melihat manusia dan memiliki kemampuan untuk bergerak dengan cepat.
Mungkin karena manusia tanpa sengaja telah menyakiti mereka dengan menyiram air panas lalu menyakiti mereka, atau telah mengencingi mereka tanpa kita sadari, lalu mereka marah dan menyakiti manusia. Ada pula kedzaliman diantara mereka, sehingga mereka mengganggu manusia tanpa sebab.
Jin (syaitan) selalu menggoda manusia untuk berbuat munkar. Melalui bisikan-bisikannya yang indah sehingga memanjakan nafsu membuat manusia lupa akan hakikatnya, yaitu untk selalu taat kepada Yang Maha Suci, Allah SWT. Melalaikan hal-hal yang fardhu, tenggelam kedalam hal-hal yang mubah dan akhirnya terperosok kejurang kenistaan tanpa kita sadari.
Selain itu, syaitan dari golongan jin juga dapat mengganggu manusia dengan cara merasuki tubuh manusia hingga ia hilang akal (gila).  Gangguan seperti ini dapat bermacam-macam gejalanya, dari mulai yang berkepanjangan berada di jasadnya, sampai yang ringan yaitu tidak lebih dari beberapa detik seperti mimpi buruk. Tanda-tanda yang sering muncul pada orang yang diganggu oleh jin ketika terjaga antara lain: pikiran kacau; sering pusing yang tidak disebabkan oleh panyakit pada kedua mata, kedua telinga, hidung, sisi tenggorokan atau lambung; sering lesu dan malas; senantiasa berpaling dari dzikrullah, shalat dan keta’atan-keta’atan lainnya. dan yang paling mudah kita lihat adalah kesurupan. Ada juga tanda-tanda yang muncul ketika dia tidur: sulit tidur malam; kecuali setelah lama bersusah payah; mimpi buruk yaitu melihat sesuatu yang mengancamnya; tertawa, menangis dan berteriak saat tidur; berdiri dan berjalan waktu tidur; mimpi melihat binatang.
 BAGAIMANA CARA MENCEGAH GANGGUAN JIN?
Allah Ta’ala telah menganjurkan setiap umat mulim untuk senantiasa mengingat-Nya, dan jika seorang hamba ingat kepada Allah, menyebut-nyebut nama Allah, maka Allah pun juga akan menyebut-nyebut nama hamba tersebut, sehingga semakin dekatlah ia dengan Allah SWT. Ketika Allah SWt sudah meridhoi seorang hamba, akankah dia membiarkan hambanya dalam bahaya? tentu tidak. Dzikrullah.. kata agung yang menggetarkan isi hati, dan semua penduduk langit, jika kita memahaminya dengan benar. Dan dzikir yang lurus adalah dzikir hanya untuk mendapatkan ridho Allah semata. Rasulullah SAW telah mencontohkan dzikir yang dapat kita amalkan, berikut diantaranya :
1. Membaca QS. Al-baqarah[2]: 255 (ayat kursi) setiap selesai sholat lima waktu, atau dibaca ketika akan tidur. Rasulullah bersabda dalam hadistnya yang sahih : barangsiapa membaca ayat kursi pada malam hari, Allah senantiasa menjaganya dan syaitan tidak mendekatinya sampai subuh
2. Membaca surah Al-Ikhlas, surah Al-falaq, dan surah An-Naas setiap akhir sholat fardhu. Sesuai dengan hadist riwayat Abu-Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i.
3. Membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah yaitu 285-286 pada permulaan malam, sesuai sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka cukuplah baginya”(HR. Bukhori)
4. Berdoa ketika memasuki suatu tempat, atau berada di padang pasir, di udara atau di laut. Sabda Rasulullah SAW, “barangsiapa singgah di suatu tempat dan dia mengucapkan : ‘A’uudzu bi kalimaatillahi attaammaati min syarri maa khalaq’ (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaanNya), maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu.”
Demikianlah penjelasan singkat mengenai campur tangan jin di alam manusia, semoga bermanfaat bagi semua orang yang membacanya.
Wa shalallahu wa sallama wa Baraka ‘ala nabiyyina muhammadin wa alihi wa shahbihi ajma’in. Wa akhiru da’wana anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.
           
Keigo_ArRifaiy